Berdoa adalah lambang rasa rendah diri dan ketidakberdayaan manusia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dapat menumbuhkan perasaan ubudiyah (penghambaan) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Salam menjelaskan masalah ini dalam sebuah hadits: “Tidaklah di atas bumi ini seorang muslim berdoa kepada Allah, kecuali Allah akan memberinya tiga hal:

(1) Allah akan memberinya sesuai dengan yang ia minta;

(2) atau Allah akan menghindarkannya dari kejahatan yang setara dengan doanya, selama tidak berdoa dengan suatu dosa atau memutus tali silaturahmi. Seseorang bertanya, ‘kalau kita perbanyak doa’? Rasul menjawab: ‘Allah lebih banyak lagi’

(3) Dalam riwayat lain, Allah akan menyimpan untuknya pahala sesuai dengan doanya” (HR. At-Tirmidzi, Hasan Shahih).

Lalu bagaimanakah dengan doa yang dipanjatkan kepada selain Allah? Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan hal tersebut dalan surat Yunus ayat 10 :

“Dan janganlah kamu memohon kepada selain Allah, yang tidak dapat memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya kepadamu; jika kamu berbuat (hal itu), maka sesungguhnya kamu, dengan demikian, adalah termasuk orang-orang yang zhalim (musyrik).” (QS. Yunus: 106)

Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan larangan-Nya kepada Nabi Shalallahu’alaihi wa Salam agar jangan berdoa dan beribadah kepada selain Allah, baik doa dan ibadah itu ditujukan kepada selain Allah atau ditujukan kepada Allah tetapi dengan disekutukan dengan lain-Nya. Sebab selain Allah tidak ada yang dapat memberi manfaat dan mudarat, atau memberi kesenangan dan kesusahan baik di dunia maupun di akhirat. Sekiranya Rasul berbuat demikian itu, termasuklah dia ke dalam orang-orang yang menganiaya diri sendiri. Tiada kedurhakaan yang lebih besar dari kedurhakaan syirik ini. Karena orang yang berbuat syirik itu mengembalikan suatu perkara yang dihadapi manusia berasal dari Allah. Maka kembalilah kepada Allah. Panjatkanlah doa kepada Allah semata-mata karena doa termasuk ibadah yang besar, bahkan otak ibadah. Tapi berdoa kepada selain Allah adalah syirik dan kedurhakaan yang paling besar.

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS. Al-Hajj: 73).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara kepada manusia seluruhnya, agar mendengarkan perumpamaan yang besar ini, dengan mengatakan kepada mereka: Sesungguhnya para wali, orang-orang shalih dan selain mereka yang kalian seru (dengan permohonan doa) pada saat kesusahan untuk membantu kalian, tidak mampu melakukan hal itu. Bahkan mereka tidak mampu menciptakan satu makhluk pun, seperti lalat. Jika lalat mengambil sesuatu dari makanan dan minuman mereka, mereka tidak mampu melepaskan darinya apa yang telah diambilnya dari mereka. Ini sebagai bukti kelemahan mereka dan kelemahan lalat, lalu mengapa kalian berdoa kepada mereka dari selain Allah Ta’ala? Dalam perumpamaan ini berisikan pengingkaran keras terhadap orang yang berdoa kepada selain Allah, baik para nabi maupun para wali.

“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar.Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (QS. Ar-Ra’d: 14).

Ayat ini memberitahukan bahwa doa yang identik sebagai ibadah wajib kepada Allah semata. Orang-orang yang berdoa kepada selain Allah yang tidak bisa mereka ambil manfaatnya, tidak pula mereka (yang dimintai doa) dapat mengabulkan sedikit pun permohonan mereka; permisalan mereka mengenai hal itu adalah seperti orang yang berdiri di tepi sumur untuk mengambil air darinya dengan tangannya. Tentu saja ia tidak bisa mengambilnya.

Kata Mujahid, “Ia meminta air dengan lisannya dan mengisyaratkan kepadanya, maka air itu tidak sampai kepadanya selamanya.” (Disebutkan oleh Ibnu Katsir)

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menghukumi orang-orang yang berdoa kepada selain Allah sebagai kafir dan bahwa doa mereka itu sesat, dalam firmanNya:

Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (QS. Ar-Ra’d: 14).

Waspadalah, wahai saudaraku seiman, jangan sampai Anda berdoa kepada selain Allah sehingga Anda menjadi kafir dan sesat. Berdoalah kepada Allah semata Yang Mahakuasa, sehingga Anda menjadi golongan orang-orang yang beriman lagi bertauhid.

Dikutip dari buku “Meniti dan Meneladani Golongan yang  Selamat

Penulis : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Penerbit : Pustaka At-Tibyan

Sumber : http://an-naba.com/perumpamaan-berdoa-kepada-selain-allah/