السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله {يا أيّها الذين آمنوا اتقوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ولا تَمُوتُنَّ إلاَّ وأَنتُم مُسْلِمُونَ} {يا أيّها الناسُ اتّقُوا ربَّكمُ الَّذي خَلَقَكُم مِن نَفْسٍ واحِدَةٍ وخَلَقَ مِنْها زَوْجَهاوبَثَّ مِنْهُما رِجالاً كَثِيراً وَنِساءً واتَّقُوا اللهََ الَّذِي تَسَائَلُونَ بِهِ والأَرْحامَ إِنَّ اللهَ كان عَلَيْكُمْ رَقِيباً } {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمالَكمْ ويَغْفِرْ لَكمْ ذُنوبَكُمْ ومَن يُطِعِ اللهَ ورَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً}

أما بعد، فإن أصدق الحديث كلام الله وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور محدثاتها وكلّ محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار

 

12. Apa Yang Diucapkan ketika Memakai Sesuatu Yang Baru :

Ada beberapa doa-doa yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau ucapkan ketika memakai sesuatu yang baru diantaranya :

  • “Ya Allah milikmulah segala pujian engkaulah yang memakaikannya kepadaku, aku memohon kepadamu dari kebaikan benda ini dan kebaikan yang dia dibuat karenanya, dan aku berlindung kepadamu dari kejelekan benda ini dan kejelekan yang dia dibuat karenanya”.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu dia berkata : ” Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemukan pakaian beliau menamakannya dengan nama pakaian tersebut, apakah itu berupa gamis ataukah imamah kemudian mengucapkan : ” Ya Allah milikmulah segala pujian engkaulah yang memakaikan pakaian ini kepadaku, aku memohon kepadamu dari kebaikan pakaian ini dan kebaikan yang dia dibuat karenanya, dan aku berlindung kepadamu dari kejelekan pakaian ini dan kejelekan yang dia dibuat karenanya…al-hadits”[1].

  • “Segala puji bagi Allah yang telah memakaikan pakaian ini kepadaku dan yang telah merizkikannya kepadaku tanpa adanya usaha dariku dan tidak pula kekuatan”.

Dari Mu’adz bin Anas, beliau berkata  : Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Barang siapa yang memakan makanan kemudian berkata : Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepadaku makanan ini dan memberikan rizki ini kepadaku tanpa adanya usaha dariku dan tanpa kekuatan, niscaya dosa-dosanya yang terdahulu [dan yang akan datang] diampuni baginya, dan barang siapa yang memakai pakaian dan mengucapkan : Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian ini kepadaku dan memberikan rizki ini kepadaku tanpa ada usaha dariku dan tanpa kekuatan, niscaya dosa-dosanya yang terdahulu dan [yang akan datang] diampuni baginya”[2].

Dan disunnahkan bagi orang yang memakai pakaian yang baru untuk mengucapkan :

 

  • “Pakailah yang baru, hidup mulialah, dan matilah dalam keadaan syahid”.

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : ” Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Umar mengenakan pakaian putih, maka beliau berkata : “ Pakaianmu ini apakah sudah dicuci ataukah baru ?” Umar berkata : Tidak, bahkan dia pakaian yang sudah dicuci[3].

Beliau berkata : “ Pakailah yang baru, dan hiduplah yang mulia dan matilah dalam keadaan syahid[4].

Dan perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Pakailah yang baru” : bentuk perintah namun yang diinginkan dengannya adalah doa agar Allah berkenan memberikan kepadanya rizki berupa pakaian baru[5].

  • “Jikalau telah usang semoga Allah ta’ala menggantikannya”.

Ummu Khalid bintu Khalid bin Sa’id meriwayatkannya dan berkata : “Didatangkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pakaian Khamishah yang berwarna hitam yang kecil. Beliau bersabda : “Siapa menurut kalian yang sesuai dengan pakaian ini ? “ Orang-orang yang ada semuanya terdiam. Beliau berkata : “ Datangkan kepadaku Ummu Khalid ”.  Maka didatangkan kepada beliau Ummu Khalid maka beliau mengambil kain khamishah tadi dan memakaikannya kepadanya dan bersabda : “ Kalaulah kain ini telah usang semoga Allah menggantikannya.”

Dan pada kain tersebut gambar berwarna hijau atau berwarna kuning, beliau berkata : wahai Ummu Khalid ini bagus, ini bagus (dalam bahasa Habasyah)”[6].

Abu Nadhrah berkata tentang hadits Abu Sa’id Al-Khudri –yang lalu- : Apabila salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai pakaian baru maka dikatakan kepadanya : Apabila telah usang semoga Allah ta’ala menggantikannya[7].

Faedah : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Ummu Khalid dengan kunyahnya bukan dengan namanya, dalam hal ini adanya penjelasan tentang perhatian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak kecil dan baiknya kelembutan beliau kepada mereka. Memanggil anak kecil yang laki-laki maupun yang perempuan dengan kunyah sebagai pengganti nama mereka, memberi kesan bagi mereka akan adanya perhatian kepada mereka dan bahwa mereka juga memiliki derajat dan kedudukan sebagaimana orang besar. Barang siapa yang mencoba hal ini akan mengetahui hal tersebut.

Catatan penting: Wajib untuk merealisasikan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hal mendahulukan kanan, dan disini disunnahkan mendahulukan bagian kanan ketika memakai sesuatu dan mendahulukan kiri ketika melepas sesuatu.

13. Sunnahnya Memakai Pakaian Putih :

Masalah ini dit rangkan didalam hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Pakailah oleh kalian pakaian kalian yang putih karena pakian putih adalah sebaik-baik pakaian kalian, dan kafanilah pada kain putih itu jenazah-jenazah kalian…al-hadits”[8].

Dan dari jalan Samrah bin Jundab radhiallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Pakailah dari pakaian kalian yang putih karena pakaian putih itu lebih suci dan lebih baik, dan kafanilah pada kain putih itu jenazah-jenazah kalian”[9].

Dan yang berlawanan dengan putih Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memakai pakaian mu’ashfar – pakaian yang diberi pewarna kuning – dan pakaian yang dicelup dengan warna merah[10].

Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash dia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat saya mengenakan dua pakaian yang mu’ashfar maka beliau berkata : sesungguhnya pakaian ini adalah pakaian orang kafir maka janganlah kamu memakainya” dan di dalam lafazh yang lain : Beliau berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat saya mengenakan dua pakaian yang mu’ashfar. Maka beliau berkata : “Apakah ibumu yang memerintahkan kamu memakai pakaian ini?”

Saya berkata : Saya akan mencuci keduanya. Beliau berkata : “Bahkan bakarlah keduanya”[11].

Perkataan beliau : “Apakah ibumu yang memerintahkan kamu memakai baju ini?” maknanya bahwa pakaian ini termasuk pakaian wanita, seragam dan akhlak mereka, adapun perintah untuk membakar dikatakan bahwa hal itu adalah hukuman dan sikap keras dan teguran kepada Abdullah bin Amru bin Al-Ash dan juga kepada selainnya dari semisal perbuatan ini, sebagaimana An-Nawawi katakan[12].

Dan terkadang larangan memakai mu’ashfar dikarenakan adanya bentuk tasyabbuh (penyerupaan) kepada orang-orang kafir, dan hal ini lebih utama untuk dibawakan kepadanya dikarenakan hadits yang menerangkan tentang hal itu : “Sesungguhnya ini adalah pakaian orang-orang kafir maka janganlah kamu memakainya”.

Masalah : Bagaimana menggabungkan antara larangan memakai pakaian yang dicelup dengan warna merah, dan dengan hadits yang shahih dalam riwayat Al-Bukhari dari hadits Al-Barra’ radhiallahu ‘anhu bahwa dia berkata : ” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk dengan menyilangkan kaki beliau, dan saya melihat beliau memakai kain Hullah yang berwarna merah dan saya tidak pernah melihat sesuatu yang lebih bagus dari pakaian tersebut”[13] .

Jawab : Bahwa larangan tersebut berlaku bagi pakaian yang murni berwarna merah, adapun apabila pada pakaian tersebut terdapat gambar dari warna-warna lain maka hal itu tidak mengapa. Ibnu Hajar mengemukakan di dalam Al-Fath tujuh pendapat tentang hukum memakai pakaian berwarna merah, kami menyebutkan pendapat yang kami anggap mendekati kebenaran di dalam masalah ini –dan pendapat ini adalah pendapat yang kuat-.

Beliau berkata : “ Larangan dikhususkan pada pakaian yang dicelup seluruhnya, adapun yang ada padanya warna lainnya selain warna merah seperti putih, hitam dan selain keduanya maka tidak mengapa, maka berdasarkan pendapat ini, hadits-hadits yang menyebutkan kain hullah yang berwarna merah digiring kepada makna ini, karena kain hullah Yaman kebanyakannya memiliki garis-garis merah dan warna lainnya.

Ibnul Qayyim berkata : “ Sebagian ulama memakai pakaian yang dicelup warna merah dan menyangka bahwa hal itu mengikuti sunnah, ini adalah kekeliruan, karena kain hullah yang berwarna merah terbuat dari burdah Yaman dan kain burdah tidak dicelup dengan warna merah polos[14].


FootNote

[1] HR. At-Tirmidzi (1767) Abu Daud (4160) dan lafazh hadits lafazh beliau dan Al-Albani menshahihkannya.

[2] HR. Abu Daud (4023) dan lafazh hadits lafazh darinya, dan Al-Albani menghasankannya tanpa adanya tambahan [dan yang akan datang] pada dua tempat. Dan Ad-Darimi (2690).

[3] Al-Albani berkata : dan di dalam riwayat lain (baru). Shahih Ibnu Majah (3/188). Cet. Maktabah Al-Ma’arif. Ar-Riyadh cetakan pertama untuk cetakan yang baru 1417 H.

[4] HR. Ahmad (5588) Ibnu Majah (3558) dan lafazh hadits lafazhnya, dan Al-Albani menshahihkan dengan no. (2879).

[5] Lihat Syarah Sunan Ibnu Majah karya As-Sindi atas hadits ini (3558).

[6] HR. Al-Bukhari (5833) Ahmad (26517) dan Abu Daud (4023).

[7] HR. Abu Daud (4020) dan hadits ini penyempurna hadits Abu Sa’id Al-Khudri yang telah berlalu penyebutannya.

[8] HR. Ahmad (2220) Abu Daud (3061) Al-Albani berkata : “shahih”, Ibnu Majah (1472) dan At-Tirmidzi (994).

[9] HR. Ahmad (19599) An-Nasaa’i (5322) Al-Albani menshahihkannya dengan no. (4915), dan Ibnu Majah (35 67).

[10] Al-Mu’ashfar : kain yang dicelup dengan celupan warna kuning. Dan Ibnu Hajar berkata : kebanyakan dicelup dengan ashfar menjadi merah. (lihat Fathul Bari 10/318).

[11] HR. Muslim (2077) dan lafazh hadits ini lafazh beliau, Ahmad (6477) dan An-Nasaa’i (5316).

[12] Syarhu Muslim jilid ketujuh (14/45).

[13] HR. Al-Bukhari  (95901), Muslim (2337) Ahmad (1819) At-Tirmidzi (1724) An-Nasaa’i (5060) dan Abu Daud (4183).

[14] Fathul Bari (10/319). Saya katakan : dan berdasarkan pendapat ini maka (pakaian Asy-Syammagh merah) yang penduduk negeri Najed memakainya tidak termasuk di dalam larangan karena bukan merah yang dirubah.

 

Bersambung, Insya Allah….

و السلام عليكم ورحمة الله وبر كاته