السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله {يا أيّها الذين آمنوا اتقوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ولا تَمُوتُنَّ إلاَّ وأَنتُم مُسْلِمُونَ} {يا أيّها الناسُ اتّقُوا ربَّكمُ الَّذي خَلَقَكُم مِن نَفْسٍ واحِدَةٍ وخَلَقَ مِنْها زَوْجَهاوبَثَّ مِنْهُما رِجالاً كَثِيراً وَنِساءً واتَّقُوا اللهََ الَّذِي تَسَائَلُونَ بِهِ والأَرْحامَ إِنَّ اللهَ كان عَلَيْكُمْ رَقِيباً } {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمالَكمْ ويَغْفِرْ لَكمْ ذُنوبَكُمْ ومَن يُطِعِ اللهَ ورَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً}

أما بعد، فإن أصدق الحديث كلام الله وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور محدثاتها وكلّ محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار

9. Haramnya Memakai Pakaian Yang Ada Padanya Shalban Atau Gambar :

Maksud kata Shalban adalah apa yang ada padanya gambar salib, dan maksud gambar disini adalah gambar bernyawa. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingkari Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anha ketika Aisyah membuatkan bantal yang bergambar sesuatu yang bernyawa untuk beliau.

Dari Al-Qasim dari Aisyah radhiallahu ‘anha : “Bahwa Aisyah membeli bantal yang ada padanya gambar-gambar, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di pintu dan tidak masuk, maka aku (Aisyah) berkata : “Saya bertaubat kepada Allah dari dosa yang kuperbuat.” Beliau berkata : “ Bantal apa ini?” Aisyah berkata : “Untuk engkau duduk di atasnya dan engkau jadikan bantal ”. Beliau berkata : “Sesungguhnya pembuat bantal ini akan diadzab di hari kiamat, dikatakan kepada mereka hidupkanlah oleh kalian apa yang telah kalian ciptakan, dan sesungguhnya malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang ada padanya gambar”[1].

An-Nawawi mengatakan : “ Ulama berkata : sebab terhalangnya mereka (yaitu malaiakat) dari rumah yang ada padanya gambar karena keberadaannya adalah perbuatan maksiat yang keji, dan ada padanya penyamaan terhadap makhluk ciptaan Allah ta’ala, dan sebagian gambar tersebut adalah sesuatu yang disembah selain Allah ta’ala ”[2].

Dari Imran bin Haththan bahwa Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan kepadanya, beliau berkata : “Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan sesuatu pun di dalam rumah yang ada padanya salib kecuali beliau melepaskannya”[3]. Dan lafazh riwayat Ahmad : “ Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  meninggalkan pakaian yang bergambar salib dirumah eliau kecuali beliau melepaskannya “

Dari apa yang telah lalu menjadi jelaslah bagi kita dengan sejelas-jelasnya haramnya memakai pakaian yang ada padanya gambar yang bernyawa atau salib, dan barang siapa yang dicoba dengan salah satu dari perkara tersebut maka hendaknya dia bertakwa kepada Allah dan agar menghapusnya dan merubah perilakunya. Kemudian apabila dia kehendaki dia dapat mempergunakannya dan mengambil memanfaatkannya, sebagaimana yang dilakukan Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata : ” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dari suatu perjalanan dan saya telah memasang tirai dengan kain tipis bergambar bernyawa milik saya pada bagian atas lubang angin rumah saya. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya beliau menyobeknya, dan beliau berkata : “ Manusia yang paling keras adzabnya di hari kiamat adalah orang-orang yang menyaingi ciptaan Allah “. Aisyah berkata : “ Maka kami menjadikan kain tersebut menjadi satu atau dua bantal”[4].

Masalah : Apakah sah shalat orang yang shalat dengan pakaian yang ada padanya gambar-gambar atau salib?

Jawaban : Al-Lajnah Ad-Daa`imah berkata di dalam salah satu fatwanya : tidak boleh seseorang shalat dengan memakai pakaian yang ada padanya gambar-gambar bernyawa apakah gambar manusia, burung, hewan-hewan ternak atau selainnya yang bernyawa, dan tidak boleh bagi seorang muslim untuk memakainya pada selain shalat.  Namun seseorang yang shalat dengan memakai pakaian yang ada padanya gambar bernyawa, shalatnya sah, namun dia berdosa, jikalau mengetahui hukum syar’i ….(pada jawaban lain tentang memakai jam atau salib Al-Lajnah menyatakan : ) Tidak boleh memakai jam atau salib, tidak di dalam shalat tidak pula pada selainnya sampai salib itu dihilangkan apakah dengan mengeruknya atau dengan sesuatu yang menutupinya, akan tetapi apabila seseorang shalat dan jam tangan/salib itu ada padanya maka shalatnya shahih, dan wajib atasnya bersegera menghilangkan salib, karena hal itu bagian dari syi’ar Nashrani, dan tidak boleh bagi seorang muslim untuk menyerupai mereka[5].

10. Termasuk Perkara Sunnah Mendahulukan Bagian Yang Kanan Ketika Memakai Pakaian dan Yang Semisalnya :

Dalil amalan tersebut adalah hadits Aisyah, Ummul mukminin radhiallahu ‘anha, beliau berkata : ” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai mendahulukan kanan di dalam bersuci, menyisir dan memakai sandal”. Pada lafazh Muslim : ” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallammenyukai mendahulukan kanan di dalam bersendal, menyisir dan bersuci”[6].

An-Nawawi  berkata : “Ini adalah aturan baku didalam syariat, yaitu apabila suatu amalan tergolong sebagai penghormatan dan pemuliaan, seperti memakai pakaian, celana, sepatu, masuk masjid, siwak, bercelak, memotong kuku, memendekkan kumis, menyisir rambut, mencabut ketiak, mencukur rambut, salam di dalam shalat, mencuci anggota bersuci, keluar dari wc, makan dan minum, bersalaman, mecium hajar aswad, dan selain itu dari perkara yang termasuk dari makna tadi yang disunnahkan mendahulukan yang kanan, adapun perkara yang merupakan kebalikan dari yang telah disebutkan seperti masuk wc, keluar dari masjid, membuang ingus, al-istinja` – membersihkan dubur atau qubul setelah buang hajat -, melepas baju, celana dan sepatu, dan yang semisalnya yang disunnahkan mendahulukan bagian yang kiri padanya, dan semua itu disebabkan untuk memuliakan bagian yang kanan, wallahu a’lam[7].

11. Sunnah Dalam Memakai sandal :

Disunnahkan seseorang memasukkan bagian yang kanan terlebih dahulu kemudian bagian yang kiri, dan ketika melepaskan kedua kaki bagian yang kiri terlebih dahulu kemudian yang kanan.

Sunnah itu disebutkan di dalam hadits Abu Hurairah radhilallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila salah seorang diantara kalian memakai sandal hendaknya dia memulai dengan yang kanan, dan apabila dia melepaskannya hendaknya dia mulai dengan yang kiri, hendaknya bagian yang kanan yang pertama yang dipakaikan sandal dan yang terakhir dilepas”[8].

Dan dimakruhkan bagi seorang muslim untuk berjalan dengan satu sandal Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila tali sandal salah seorang diantara kalian putus maka janganlah ia berjalan dengan memakai satu sandal sampai dia memperbaikinya”[9].

Dan dari beliau radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah salah seorang dari kalian berjalan dengan satu sandal hendaknya dia melepaskan keduanya atau memakai keduanya”[10].

Dan semua yang disebutkan agar diketahui hukumnya sebatas sunnah dan tidak sampai derajat wajib, maka barang siapa yang menghadapi suatu kejadian atau sandal atau sepatunya putus hendaknya dia berhenti sampai dia memperbaiki sandalnya atau melepas sandal yang satunya dan menyelesaikan perjalanannya. Tidak sepatutnya bagi seorang mukmin menyelisihi larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun hanya perkara yang makruh tidak sampai pada perkara yang haram.

Hendaknya seseorang itu membiasakan dirinya agar berada di atas petunjuk Nabi bagi secara zhahir maupun secara bathin, dan agar meraih kemulian ittiba’ yang hakiki.

Ketahuilah bahwa ulama menyebutkan beberapa sebab larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan dengan satu sandal. An-Nawawi berkata : “ Ulama berkata : Sebabnya karena hal itu perkara yang buruk dan hukuman serta menyelisihi kewibawaan, karena memakai satu sandal menjadikan yang satu menjadi lebih tinggi dari yang lainnya maka jalannya menjadi susah bahkan hal itu menjadi sebab seseorang tergelincir[11] dan selainnya.

Kemudian saya mendapati bahwa Syaikh Al-Albani rahimahullah membawakan di dalam As-Silsilah Ash-Shahihah hadits yang diriwayatkan oleh At-Thahawi di dalam Musykil Al-Atsar : Dari hadits  Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Sesungguhnya syaithan berjalan dengan mengenakan satu sandal”[12]. Berpedoman dengan hadits ini akan menjadi jelas bagi kita sebab larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari berjalan di atas satu sandal, dan bahwa hal itu merupakan jalannya syaithan. Apabila hal itu telah shahih dalam syariat Islam cukuplah bagi kita dari segala upaya untuk menguak sebab dari larangan tersebut..

Faedah : termasuk perkara sunnah adalah bertelanjang kaki – kadang-kadang- yaitu berjalan dalam keadaan tidak memakai alas kaki.

Dari Abu Buraidah radhiallahu ‘anhu bahwa salah seorang dari sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadakan perjalanan mengunjungi Fudhalah bin Ubaid dan dia ada di Mesir. Lalu sahabat tadi tiba kepadanya dan berkata : “Adapun saya tidak datang ziarah kepadamu akan tetapi saya dan kamu saling mendengar satu hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya harap ilmu ada padamu tentang hadits tersebut. Fudhalah berkata : Apakah itu? Sahabat tadi berkata : Begini dan begitu. Sahabat itu berkata : Mengapa saya melihat kamu dalam keadaan kusut sedangkan kamu adalah pemimpin suatu daerah ? Fudhalah berkata : sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami dari sering bermewah-mewah. Sahabat tadi berkata : Mengapa saya tidak melihat engkau memakai sepatu? Fudhalah berkata : adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami agar bertelanjang kaki sekali waktu”[13].


FOOTNOTE

[1] HR. Al-Bukhari (5957) Muslim (2107) Ahmad (25559) dan Malik (1803).

[2] Syarh Muslim jilid ke tujuh (14/69).

[3] HR. Al-Bukhari (5952) Ahmad (23740) dan Abu Daud (4151).

[4] HR. Al-Bukhari (5954) dan lafazh hadits lafazh beliau, Muslim (2107), Ahmad (24197) An-Nasaa’i (761) dan Ibnu Majah (3653).

[5] Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah nomer (5611) (6/179) dan nomer (2615) (6/183).

[6] HR. Al-Bukhari (5854) Muslim (268) Ahmad (24106) At-Tirmidzi (608) An-Nasaa’i (421) Abu Daud (4140) dan Ibnu Majah (401).

[7] Syarah Shahih Muslim jilid kedua (3/131).

[8] HR. Al-Bukari (5856) Muslim (2097) Ahmad (7753) At-Tirmidzi (1779) Abu Daud (4139) Ibnu Majah (3616) dan Malik (1702).

[9] HR. Muslim (2098) Ahmad (9199) dan An-Nasaa’i (5369).

[10] HR. Al-Bukhari (5855) Muslim (2098) Ahmad (7302) At-Tirmidzi (1774) Abu Daud (4136) Ibnu Majah (3617) dan Malik (1701).

[11] Syarh shahih Muslim jilid 7 (14/62).

[12] Al-Albani berkata setelah membawakan sanadnya : hadits ini sanadnya shahih dan perawinya seluruhnya tsiqah dan merupakan para perawi yang dipergunakan oleh As-Syaikhani selain Ar-Rabi’ bin Sulaiman Al-Muradi dan dia perawi yang tsiqah. Lihat As-Silsilahtus Ash-Shahihah dengan no. (348) (1/616-617).

[13] HR. Ahmad (23449) Abu Daud (4160) lafazh hadits lafazh beliau dan Al-Albani menshahihkannya.

 

Bersambung, Insya Allah….

و السلام عليكم ورحمة الله وبر كاته