السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله {يا أيّها الذين آمنوا اتقوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ولا تَمُوتُنَّ إلاَّ وأَنتُم مُسْلِمُونَ} {يا أيّها الناسُ اتّقُوا ربَّكمُ الَّذي خَلَقَكُم مِن نَفْسٍ واحِدَةٍ وخَلَقَ مِنْها زَوْجَهاوبَثَّ مِنْهُما رِجالاً كَثِيراً وَنِساءً واتَّقُوا اللهََ الَّذِي تَسَائَلُونَ بِهِ والأَرْحامَ إِنَّ اللهَ كان عَلَيْكُمْ رَقِيباً } {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمالَكمْ ويَغْفِرْ لَكمْ ذُنوبَكُمْ ومَن يُطِعِ اللهَ ورَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً}

أما بعد، فإن أصدق الحديث كلام الله وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور محدثاتها وكلّ محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار

7. Sunnah Memendekkan Pakaian Untuk Laki-laki dan Memanjangkan Pakaian Perempuan :

Syariat Nabi Muhammad membedakan antara pakaian laki-laki dan dan pakaian perempuan dalam perkara panjang dan pendek. Syariat membatasi bagi laki-laki apa yang ada antara pertengahan betisnya sampai apa yang ada di atas kedua mata kaki, dan mengharuskan bagi perempuan untuk menutup kedua kakinya dan tidak ada suatupun yang nampak darinya, dan yang demikian itu karena badan perempuan atau satu bagian darinya adalah fitnah bagi laki-laki maka mereka diperintahkan untuk menutup seluruhnya. Sedangkan laki-laki mereka diperintahkan untuk mengangkat pakaian mereka, agar sifat sombong dan ‘ujub serta angkuh tidak masuk ke dalam hati mereka. Dimana menjulurkan pakaian terkandung kesenangan dan sikap bermewah-mewah yang tidak sesuai dengan tabiat laki-laki.

Yang mengherankan, mayoritas manusia menyelisihi sunnah dan memutar balikkan perkara, laki-laki memperpanjang pakaian mereka sampai pakaian mereka menyeret tanah bahkan menyapunya, dan wanita memperpendek pakaian mereka maka nampaklah betis mereka. Bahkan diantara mereka ada yang melampaui batas tersebut.

Atsar-atsar berkaitan dengan bab ini banyak sekali dan diketahui oleh kalangan tertentu maupun bagi kalangan awam. Akan tetapi syahwat dan hawa nafsu yang menyimpang menjadi penghalang untuk mengikuti kebenaran dan komitmen kepadanya. Kami akan menyebutkan apa yang hadir dalam ingatan kami di sini sebagai peringatan bagi kaum yang beriman, dan sebagai ancaman bagi yang bermaksiat lagi menyelisihi perintah syariat – kami memohon kepada Allah agar kita semua mendapat hidayah dan tetap istiqamah di atas agama – :

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambeliau bersabda : “ Kain yang melewati di bawah mata kaki dari sarung maka tempatnya di neraka” dan lafazh dari riwayat Ahmad : “Sarung seorang mukmin dari pertengahan betis ke bawah sampai di atas mata kaki. Dan yang berada di bawah itu maka tempatnya di neraka”[1].

Dan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda : “Tiga golongan Allah tidak mengajaknya berbicara di hari kiamat dan tidak pula melihat kepada mereka dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih “.

Abu Dzar berkata : “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakannya sebanyak tiga kali “. Abu Dzar berkata : “Sungguh merugi mereka itu, siapakah mereka wahai Rasulullah?  “

Beliau berkata : “ Al-Musbil (yang menyeret kainnya yang menutup mata kaki) Al-Mannan (yang selalu menyebut-nyebut kebaikannya dihadapan orang yang dia beri kebaikannya) dan orang yang membelanjakan barang dagangannya dengan sumpah palsu “[2].

Dari Ummu Salamah – istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam– beliau berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menyebutkan tentang al-izar (sarung) “bagaimana dengan wanita wahai Rasulullah? Dia berkata : “ Dia menurunkan sejengkal “. Ummu Salamah berkata : “Kalau begitu kakinya masih tersingkap “.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “ Kalau begitu turunkan kebawah sampai satu hasta dan janganlah dia menambahkannnya” [3].

Catatan penting : Maksud dari memanjangkan pakaian perempuan adalah untuk menutup kedua kakinya, kalau ada pakaian perempuan yang tidak menutup kedua kakinya dan memakai bersama dengan pakaiannya itu kaus kaki atau yang semisalnya dari apa yang dapat menutupi maka hukumnya boleh. Ibnu Utsaimin berkata : “ Karena sesungguhnya menutup kedua kaki perempuan ada perkara yang disyariatkan bahkan wajib menurut pendapat mayoritas ulama, maka yang sepatutnya bagi perempuan agar menutup kedua kakinya apakah dengan pakaian yang lebar ataukah dengan kaos kaki atau kanadir (semacam sepatu wanita) atau yang mirip dengannya[4].

Catatan penting lainnya : sebagian orang beralasan atas bolehnya isbal (menutup mata kaki) bagi laki-laki untuk pakaian, dengan perbuatan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, dan bahwa pakaian beliau pernah menjulur. Tidak ada hujjah pada permasalah itu bagi seorang pun. Bahkan atsar tersebut merupakan argument bantahan atas mereka.

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa yang menyeret pakaiannya dengan sombong Allah tidak akan melihat kepadanya di hari kiamat , Abu Bakar berkata : “ Wahai Rasulullah sesungguhnya salah satu dari dua sisi sarung saya menjulur ke bawah kecuali saya jaga hal itu dari isbal “, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Kamu bukan orang yang membuatnya karena sombong”[5].

Kami katakan kepada orang yang beralasan tersebut :  Kami memperbolehkan bagi anda menjulurkan pakaian anda apabila anda telah memenuhi  tiga perkara :

  • Pertama : Agar salah satu dari dua sisi sarungmu menjulur ke bawah dan bukan dari seluruh sisi pakaian.
  • Kedua : Agar anda menjaga pakaian anda dengan mengangkatnya setiap kali terjatuh, sebagaimana Abu Bakar radhiallallahu ‘anhu melakukannya, maka hal itu bukan faktor kesengajaan dari anda.

Ibnu Hajar berkata : “Dalam riwayat Ahmad : “Sesungguhnya sarung saya terkadang melorot”,  beliau berkata : Seakan-akan ikatannya lepas apabila dia bergerak ketika berjalan atau yang lain tanpa adanya kesengajaan darinya, apabila dia menjaga atas pakaian tersebut maka pakaiannya tidak melorot kebawah karena setiap kali hampir melorot beliau mengencangkan ikatannya. [6].

  • Ketiga : Nabi bersaksi bagi anda bahwa anda bukan termasuk orang yang melakukannya karena sombong! Dan  yang terakhir ini yang sekarang ini telah tertiadakan dan tidak ada cara untuk mengadakannya.

Faedah : menyeret pakaian ada tiga macam :

  • Pertama : Menyeretnya karena sombong. Maka yang semacam ini Allah tidak akan melihat kepadanya di hari kiamat.
  • Kedua : Menyeretnya karena maksud tertentu dan terus-menerus seperti itu, dan bukan karena sombong namun hanya mengikuti kebiasaan manusia. Maka ini terkena padanya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kain yang ada di bawah mata kaki dari pakaian maka tempatnya di neraka”.[7].
  • Ketiga : menyeretnya karena menghadapi suatu kejadian, dan tidak ada padanya kesombongan, maka yang terakhir ini tidak apa-apa karena hal itu pernah terjadi pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ketika gerhana matahari : “Beliau bangkit dan menyeret pakaian beliau dengan tergesa-gesa hingga beliau tiba di masjid”[8].

Ibnu Hajar berkata : ” Hadits ini menerangkan apabila menyeret pakaian karena tergesa-gesa maka dia tidak termasuk dalam larangan…”[9]. Dan karena hal itu terjadi pada diri Abu Bakar sebagaimana yang telah kita kemukakan tadi[10].

8. Haramnya Wanita Menampakkan Perhiasannya Kecuali Kepada Mereka Yang Allah Kecualikan :

Perhiasan wanita terbagi menjadi dua, perhiasan yang nampak ataukah yang bathin, Allah ta’ala berfirman :

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ

مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ

بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ

نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الإرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ

يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى

اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“ Dan katakanlah – wahai Muhammad – kepada kaum mukminaat, agar supaya mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka. Dan agar mereka tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali perhiasan yang nampak. Dan hendaknya mereka menjulurkan jilbab mereka  diatas pakaian mereka. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka atau kepada orang tua mereka atau kepada bapak-bapak suami mereka atau kepada anak-anak laki-laki mereka … “ (An-Nur : 31)

Firman Allah :  “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang nampak dari mereka” yaitu pakaian yang nampak yang berlaku di dalam adat kebiasaan yang seringkali mereka kenakan, apabila pakaian tersebut bukan pakaian yang akan menyebabkan timbulnya fitnah. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Sa’di berkata [11]. Yang tiada lain merupakan pakaian yang zhahir. Kemudian Allah ta’ala berfirman :   “Dan Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka” yaitu yang bathin kecuali kepada para suami-suami dan bapak-bapak dan anak-anak….dst. Pakaian bathin adalah seperti wajah, leher, perhiasan dan dua telapak tangan. Dan dari sini diketahui bahwa wajah termasuk bagian dari perhiasan yang bathin yang haram bagi wanita muslimah untuk menampakkannya kecuali kepada mereka yang Allah kecualikan di dalam ayat.

Kemudian Allah ta’ala berfirman :   ( An-Nuur : 31) “Dan janganlah mereka memukul dengan kaki-kaki mereka agar diketahui perhiasan mereka yang tersembunyi “. Yaitu : Janganlah mereka memukulkan ke tanah dengan kaki-kaki mereka, agar berbunyi apa yang ada pada mereka dari perhiasan, seperti gelang-gelang kaki dan selainnya, sehingga diketahui perhiasan yang dimilikinya, sehingga menjadi wasilah/perantara kepada fitnah[12].


FootNote

[1] HR. Al-Bukhari (5787) Ahmad (10177) dan An-Nasaa’i (5330).

[2] HR. Muslim (106) Ahmad (20811) At-Tirmidzi (1211) An-Nasaa’i (2564) Abu Daud (49087) Ibnu Majah (2208) dan Ad-Darimi (2605).

[3] HR. Ahmad (25972) Abu Daud (4117) sesuai lafazh haditsnya dan Al-Albani berkata : “shahih”. At-Tirmidzi (1733) An-Nasaa’i (5327) Ibnu Majah (3580) Malik (1700) dan Ad-Darimi (2644).

[4] Fatawa As-Syaikh Ibnu Utsaimin (2/838).

[5] HR. Al-Bukhari (5784) dan lafazh hadits sesuai periwayatannya, dan Muslim (2085) Ahmad (5328) At-Tirmidzi (1730) An-Nasaa’i (5335) Abu Daud (4085) Ibnu Majah (3569) dan Malik (16696).

[6] Fathul Bari (10/266).

[7] HR. Al-Bukhari (5787) Ahmad (9063) dan An-Nasaa’i (5330).

[8] HR. Al-Bukhari (5785) Ahmad (19877) dan An-Nasaa’i (1502).

[9] Fathul Bari : (10/267).

[10] Ini adalah ringkasan apa yang syaikh Muhammad bin As-Shalih Al-Utsaimain sebutkan di dalam syarah beliau tentang kitab Al-Libas dari shahih Al-Bukhari (kaset nomer 2 side A).

[11] Taisir Al-Karim Ar-Rahman fi tafsir Kalam Al-Mannan (5/410).

[12] Tafsir Ibnu Sa’di (5/412).

 

Bersambung, Insya Allah….

و السلام عليكم ورحمة الله وبر كاته