السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله {يا أيّها الذين آمنوا اتقوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ولا تَمُوتُنَّ إلاَّ وأَنتُم مُسْلِمُونَ} {يا أيّها الناسُ اتّقُوا ربَّكمُ الَّذي خَلَقَكُم مِن نَفْسٍ واحِدَةٍ وخَلَقَ مِنْها زَوْجَهاوبَثَّ مِنْهُما رِجالاً كَثِيراً وَنِساءً واتَّقُوا اللهََ الَّذِي تَسَائَلُونَ بِهِ والأَرْحامَ إِنَّ اللهَ كان عَلَيْكُمْ رَقِيباً } {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمالَكمْ ويَغْفِرْ لَكمْ ذُنوبَكُمْ ومَن يُطِعِ اللهَ ورَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً}

أما بعد، فإن أصدق الحديث كلام الله وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور محدثاتها وكلّ محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار

 

5. Haramnya Pakaian Syuhroh (agar menjadi terkenal karena pakaian tersebut) :

Kebanyakan orang – khususnya wanita – berlomba-lomba memakai pakaian yang bernilai tinggi dengan harapan agar orang-orang mengangkat pandangan mereka kepadanya dan pakaiannya menjadi masyhur diantara mereka, diiringi sifat ingin lebih tinggi kedudukannya dari yang lain, congkak dan sombong kepada mereka.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Barang siapa yang memakai pakaian syuhrah di dunia niscaya Allah memakaikannya pakaian kehinaan di hari kiamat” dan diriwayatkan dengan lafazh “pakaian yang semisalnya”[1].

Ibnu Al-Atsir berkata : “ As-Syuhrah adalah menampakkan sesuatu, dan yang dimaksud adalah bahwa pakaian seseorang terkenal diantara manusia dikarenakan perbedaan warna dari warna-warna pakaian mereka maka orang-orang pun mengangkat pandangan mereka kepadanya sehingga membuatnya meremehkan mereka dengan sifat ‘ujub dan takabbur…dan

Ibnu Raslan berkata : “Karena memakai pakaian syuhrah di dunia untuk menjadi mulia dengannya dan menyombongkan diri atas orang lain maka Allah akan memakaikannya di hari kiamat pakaian yang terkenal dengan kehinaannya dan meremehkannya diantara mereka sebagai hukuman baginya, dan hukumannya sesuai jenis amalan seseorang …dan perkataan Nabi : “pakaian kehinaan” yaitu Allah memakaikan kepadanya di hari kiamat pakaian kehinaan, dan maksudnya adalah pakaian yang menyebabkan kehinaan di hari kiamat sebagaimana seseorang itu memakai pakaian di dunia agar dimuliakan oleh manusia dan untuk keangkuhan didepan mereka , sebagaimana dikatakan didalam ‘Aun Al-Ma’bud[2].

Catatan : pakaian syuhrah bukanlah khusus dengan nilainya yang berharga tinggi, bahkan setiap pakaian – walaupun rendah nilainya – akan tetapi menghantarkan kepada syuhrah, dan tujuan orang yang memakainya agar menjadi terkenal diantara manusia maka dia adalah pakaian syuhrah, sebagaimana seseorang yang memakai pakaian yang kumuh dan compang-camping agar manusia meyakini ada padanya sifat zuhud dan wara’, dan yang semisalnya.

Ibnu Taimiyah berkata : “Pakaian syuhrah itu dimakruhkan , karena merupakan pakaian kesombongan dan keluar dari kebiasaan manusia, dan pakaian rendahan yang keluar dari kebiasaan. Sesungguhnya para salaf dahulu menganggap makruh dua jenis syuhrah, pakaian kesombongan dan pakaian rendahan, dan di dalam hadits : “Barang siapa yang memakai pakaian syuhrah Allah akan memakaikannya pakaian kehinaan” dan perkara yang terbaik adalah perkara yang ada di pertengahan[3].

 

6. Haramnya Emas Dan Sutra bagi Laki-laki Kecuali Ada Udzur :

Diharamkan bagi laki-laki memakai emas dan sutra, dan dibolehkan bagi wanita, emas merupakan perhiasan yang dipergunakan kaum wanita untuk berhias – dan demikian pula sutra – , adapun laki-laki dialah yang mengharapkan bukan yang diharapkan – untuk memakainya – Dimana emas dan sutra mengandung tambahan kesenangan yang menggoyahkan kekakuan laki-laki dan kekerasannya, maka bagaimana jika perkara tersebut terlarang oleh syariat, tentu yang wajib adalah berserah diri terhadap ketetapan syariat.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : “ Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengambil kain sutra dan menjadikannya di sebelah kanannya, dan mengambil emas dan menjadikannya di sebelah kirinya kemudian beliau bersabda : “ Sesungguhnya kedua benda ini haram atas laki-laki dari ummatku”[4].

Dan dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu, beliau  berkata : Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa yang memakai sutra di dunia dia tidak akan memakainya di akhirat”[5].

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya beliau melarang dari cincin emas”[6].

Berikut atsar-atsar yang telah dikemukakan sebelumnya – dan yang selainnya – menunjukkankan haramnya emas dan perak bagi laki-laki, kecuali ada beberapa keadaan yang dikecualikan dari pengharaman ini : boleh bagi laki-laki memakai sutra apabila ada padanya gatal dan dia terganggu dengan gatal tersebut, dari Anas radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan kepada Abdurrahman bin Auf dan Az-Zubair memakai gamis yang terbuat dari sutra karena gatal yang diderita oleh keduanya[7].

Dan dibolehkan bagi seseorang memakainya di dalam peperangan, atau menolak kemudharatan seperti orang yang tidak mendapatkan pakaian kecuali pakaian sutra untuk menutup auratnya, atau untuk menghalau rasa dingin. Dibolehkan memakai sutra apabila sebagian dari pakaian kira-kira empat jari atau kurang dari itu, berdasarkan hadits Umar bin Al-Khaththab dia berkata : ” Nabiyullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memakai sutra kecuali seluas dua atau tiga atau empat jari[8].

Dibolehkan memakai emas – untuk pengobatan – bagi laki-laki karena darurat, sebagaimana yang terjadi pada Arfajah radhiallahu ‘anhu, dari Abdurrahman bin Tharfah bahwa kakeknya Arjafah bin As’ad hidungnya terpotong di hari peperangan Al-Kullab, maka dia membuat hidung dari daun namun daun itu berbau dan mengganggu dirinya, maka Nabi memerintahkannya untuk mengganti dengan yang terbuat dari emas[9].

Masalah : Apakah boleh anak-anak memakai sutra?

Jawab : Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah berkata : Adapun memakaikan sutra bagi anak-anak, yang belum mencapai usia baligh, maka ada dua pendapat yang populer di kalangan ulama, namun yang paling tepat dari kedua pendapat tadi adalah pendapat yang mengatakan tidak bolehnya, karena perbuatan apa yang haram diperbuat oleh  laki-laki dewasa maka haram pula pemakaiannya bagi anak kecil. Seseorang diwajibkan untuk menyuruh anak kecil mengerjakan shalat ketika dia mencapai umur tujuh tahun, dan memukulnya ketika dia mencapai umur sepuluh tahun, maka bagaimana bisa halal baginya untuk memakai hal-hal yang haram.

Umar bin Al-Khaththab pernah melihat ada pada seorang anak kecil anak dari Az-Zubair memakai pakaian dari sutra maka Umar merobek-robek baju tersebut dan berkata : “ Janganlah kalian memakaikan mereka sutra. Dan demikian pula Ibnu Mas’ud pernah merobek baju sutra yang ada pada anaknya…[10].


FootNote

[1] HR. Ahmad (5631) lafazh sesuai periwayatan beliau dan Abu Daud (4029), Al-Albani menghasankannya dengan no. (3399), dan Ibnu Majah juga meriwayatkannya (3606).

[2] Syarah sunan Abu Daud jilid ke enam (11/50 – 51) dengan sedikit perubahan.

[3] Al-Fatawa (22/138).

[4] HR. Abu Daud (4057) dan Al-Albani menshahihkannya dengan no. (3422), An-Nasaa’i (5144) dan Ibnu Majah (3595).

[5] HR. Muslim (2073).

[6] HR. Al-Bukhari (5864), Muslim (2089), Ahmad (9709) dan An-Nasaa’i (5273).

[7] HR. Al-Bukhari (2919) Muslim (2089) Ahmad (11821) At-Tirmidzi (1722) An-Nasaa’i (5310) Abu Daud (4057) dan Ibnu Majah (3592).

[8] HR. Al-Bukhari (5828) Muslim (2069) dan lafazh hadits ini sesuai periwayatan beliau, Ahmad (367) An-Nasaa’i (5312) dan Ibnu Majah (2820).

[9] HR. Abu Daud (4232) Al-Albani berkata : “haditsnya hasan”, no. (3561) Ahmad (18527) At-Tirmidzi (1770) dan An-Nasaa’i (5161).

[10] Al-Fatawa (22/143).

Bersambung, Insya Allah…

و السلام عليكم ورحمة الله وبر كاته