السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله {يا أيّها الذين آمنوا اتقوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ولا تَمُوتُنَّ إلاَّ وأَنتُم مُسْلِمُونَ} {يا أيّها الناسُ اتّقُوا ربَّكمُ الَّذي خَلَقَكُم مِن نَفْسٍ واحِدَةٍ وخَلَقَ مِنْها زَوْجَهاوبَثَّ مِنْهُما رِجالاً كَثِيراً وَنِساءً واتَّقُوا اللهََ الَّذِي تَسَائَلُونَ بِهِ والأَرْحامَ إِنَّ اللهَ كان عَلَيْكُمْ رَقِيباً } {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمالَكمْ ويَغْفِرْ لَكمْ ذُنوبَكُمْ ومَن يُطِعِ اللهَ ورَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً}

أما بعد، فإن أصدق الحديث كلام الله وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور محدثاتها وكلّ محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار

 

17. Sunnah Bagi Laki-laki Melebatkan Jenggot Dan Memotong Kumis :

Sunnah yang wajib bagi laki-laki adalah melebatkan jenggot dan membiarkannya tumbuh, dan memendekkan kumis dan mencukurnya.

Dan perkara ini bukan perkara yang lapang bagi kita sehingga kita bisa mengamalkannya sesuka kita dan meninggalkannya sesuka kita, bahkan perkara ini adalah perkara yang wajib bagi kita, maka wajib mengamalkan dan ta’at padanya.

Allah ta’ala berfirman :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا مُبِينًا

“ Dan tidaklah pantas bagi seorang mukmin laki-laki dan tidak juga wanita, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, bagi mereka memilih perkara lainnya bagi mereka. Dan barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata “(Al-Ahzab : 36 ).

Yaitu tidak sepatutnya dan tidak pantas, bagi orang yang disifatkan dengan keimanan kecuali bersegera kepada keridhaan Allah dan Rasulnya, dan menjauhi dari kemurkaan Allah dan rasulnya, dan melaksanakan perintah keduanya, dan menjauhi larangan keduanya. Maka tidak layak bagi laki-laki dan perempuan yang beriman :  Apabila Allah dan rasulnya menetapkan satu perkara [Al-Ahzab : 36] dari perkara-perkara agama yang ada, dan mewajibkannya serta mengharuskannya :

adanya pilih memilik dari perkara tersebut [Al-Ahzab : 36] : Yaitu : pilihan, apakah mereka laksanakan atau tidak? Bahkan seorang mukmin dan mukminah mengetahui bahwa Rasul lebih utama akan hal tersebut daripada dirinya, maka janganlah ia menjadikan sebagian hawa nafsunya menjadi penghalang dirinya dengan Allah dan Rasulnya, demikian dari  perkataan Ibnu Sa’di[1].

Dan hadits-hadits tentang perintah memelihara jenggot dan memotong kumis dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat banyak dan lafazh-lafazhnya bermacam-macam diantaranya : “Lebatkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis”[2].

Dan lafazh lainnya : “Habiskanlah kumis dan biarkanlah jenggot”[3].

Dan lafazh lainnya : “Selisihilah orang-orang musyrik, potonglah kumis dan peliharalah jenggot”[4].

Dan diantaranya : “Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot. Dan selisihilah orang-orang Majusi” [5].

Perintah memelihara jenggot dan memotong kumis ada mengandung dua perkara :

  • Yang pertama : Perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib yang tidak ada yang memalingkan dari kewajiban tersebut. Perintah yang tidak boleh seorang mukmin menyelisihinya bagaimanapun juga.
  • Kedua : Perintah menyelisihi orang-orang musyrik, dan telah diketahui dari nash-nash syariat bahhwa meniriu-niru mereka adalah perkara yang haram. Oleh karena itu wajib bagi seorang muslim kembali dengan segera kepada perintah Allah dan Rasulnya dan tidak menyelisihi perintah mereka berdua sampai tidak terjadi fitnah atau mendapatkan adzab yang pedih. Allah ta’ala berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ..

“ Dan hendaknya mereka yang menyelisihi perintah Rasul berhati-hati, akan tertimpa fitnah bagi mereka ataukah mereka akan ditimpakan adzab yang pedih “(An-Nuur : 63).

Sebagian ulama  mengulas pembahaan tentang mengambil sebagian dari jenggot panjang dan lebarnya, berpegang dengan atsar para salaf yang mulia, akan tetapi lafazh-lafazh yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat jelas dan cukup untuk masalah ini, dan hujjah ada pada perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan pada perkataan atau perbuatan sahabat dan pengikut beliau.

Pendapat yang terpilih adalah membiarkan jenggot sesuai keadaannya, dan agar tidak memendekkannya sesuai hukum asalnya, dan pendapat yang terpilih di dalam masalah kumis adalah tidak menghabiskannya dan menyisakan sedikit pada ujung bibir. Wallahu a’lam, Demikian dikutip dari perkataan An-Nawawi[6].

18. Sunnah Merubah Warna Uban Dengan Selain Warna Hitam :

Disunnahkan bagi yang rambut kepala dan wajahnya telah beruban untuk merubah warnanya dengan mencat, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya Yahudi dan Nashrani tidak mencat rambut-rambut mereka maka selisihilah mereka”[7].

Akan tetapi hendaknya warna hitam dijauhi berdasarkan larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari mencat dengan warna tersebut. Pada tahun Futuh Makkah ketika Abu Qahafah didatangkan kepada beliau dan kepala dan jenggotnya putih maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Rubahlah warna rambut ini dengan sesuatu dan jauhilah warna hitam” [8].

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Jauhilah warna hitam” adalah nash yang pasti tentang pengharaman. Maka warna putih dirubah dengan warna apa saja selain warna hitam, dan larangan ini berlaku untuk laki-laki dan perempuan dengan batasan yang sama.

Ditanyakan kepada Al-Imam Ahmad : Apakah engkau membenci mencat rambut dengan warna hitam? Beliau berkata : “ Iya demi Allah; dikarenakan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  kepada  ayah Abu Bakar radhiallahu ‘anhuma “Jauhilah warna hitam”[9].

Faedah :

Wahai laki-laki yang ubannya dihitamkan

Supaya dianggap sebagai pemuda

Berhentilah walaupun setiap burung merpati putih dihitamkan

Tidaklah ia dianggap bagian dari burung gagak[10]

 

19. Pembahasan Tentang Bercelak :

Bercelak bagi wanita adalah perhiasan, dan bagi laki-laki dan wanita adalah pengobatan yang bermanfaat. Dan orang-orang Arab dahulu menjadikannya sebagi pengobatan dari penyakit radang mata.

Di dalam hadits Ummu ‘Athiyyah radhiallahu ‘anha tentang wanita yang ditinggal mati suaminya mengeluhkan matanya, maka para sahabat menyampaikan hal tersebut kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka pun menyebutkan tentang celak[11] yaitu sebagai pengobatan untuknya.

Dan di dalam hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Pakailah pakaian kalian yang putih karena hal itu sebaik-baik pakaian kalian, dan kafanilah dengannya  jenazah-jenazah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik celak kalian adalah Al-Itsmid[12], menerangkan penglihatan dan menumbuhkan rambut”[13]. Sunnah ketika memakainya dengan witir (ganjil), yaitu bercelak pada mata kanan tiga kali dan pada mata kiri tiga kali, atau pada mata kanan dua kali dan mata kiri satu kali maka semuanya menjadi ganjil atau kebalikannya atau lebih banyak lagi selama jumlahnya ganjil. Ibnu Hajar menguatkan pendapat yang pertama[14].

Catatan : Tidak sepantasnya laki-laki menjadikan celak sebagai penghias, karena laki-laki itu adalah yang menuntut wanita berhias bukan yang dituntut berhias, bukan dari sifat kejantanan seorang laki-laki berhias sebagaimana wanita berhias, dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyenangi Al-itsmid karena padanya ada beberapa faedah beliau bersabda : “Pakailah Al-Itsmid karena dia dapat menumbuhkan rambut dan dapat menghilangkan kotoran mata dan menjernihkan pandangan”[15]. Adapun laki-laki menjadikannya untuk memperindah penampilan dan sebagai penghias kedua mata maka tidak boleh.

20. Perhiasan Apa Saja Yang Haram Atas Wanita :

Allah Subhanahu wa Ta’ala membolehkan bagi wanita untuk menjadikan beberapa perkara sebagai perhiasan/penghias seperti celak, wangi-wangian, daun pacar dan yang semisalnya dari perkara yang wanita itu berhias dengannya. Dan mengharamkan atas mereka beberapa perkara yang wanita jadikan sebagai penghias, dan dia pada hakikatnya tidak sampai merubah ciptaan Allah yang Allah ciptakan atasnya. Seperti Al-Wasyam (tato)[16], An-Namash[17], At-Tafalluj[18] untuk dilihat bagus, dan al-washal[19]. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata : “Allah melaknat al-wasyimaat, al-muwasysyimaat, al-mutanammishaat, al-mutafallijaat agar terlihat bagus, yang merubah ciptaan Allah. Hal itu sampai kepada seorang perempuan dari bani Asad yang dipanggil dengan Ummu Ya’quub, dia pun datang dan berkata : “Sesungguhnya telah sampai kepada saya bahwa engkau melaknat ini dan itu.” Maka Abdullah bin Mas’ud berkata : “Mengapa saya tidak melaknat orang yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan orang yang ada di dalam kitab Allah.” Maka wanita itu berkata : “Sungguh saya telah membaca ayat-ayat yang ada di antara dua lembaran ini namun saya tidak mendapatkan padanya apa yang kamu katakan.” Abdullah bin Mas’ud berkata : “Apabila kamu membacanya niscaya kamu akan mendapatkannya, tidakkah kamu membaca.

..وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا..

“ Dan setiap yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bagi kalian maka ambillah dan setiap yang beliau larang atas kalian maka kalian berhentilah “ ( Al-Hasyr : 7 ).

Wanita itu berkata : Benar. Abdullah bin Mas’ud berkata : sungguh beliau telah melarang hal itu.

Wanita itu berkata : Sungguh aku melihat sangat celaka apa yang mereka lakukan. Abdullah bin Mas’ud berkata : Pergilah dan lihatlah.

Wanita itu pergi dan melihat namun dia belum melihat suatu pun dari hajatnya. Abdullah berkata : Kalaulah dia itu demikian saya tidak menggaulinya” dan lafazh Muslim : “Allah melaknat Al-Wasyimah, Al-Mustausyimah, An-Namishaat, Al-Mutanammishaat, dan Al-Mutafallijaat agar terlihat bagus dengan merubah ciptaan Allah…al-hadits “

Dan dalam riwayat Al-Bukhari dan selainnya dari Abdullah “Allah melaknat Al-Washilah[20].

Keterangan yang jelas pada hadits-hadits tadi di dalam masalah ini dan kerasnya ancaman hal tersebut, namun banyak dari wanita melakukan hal itu atau melakukan sebagiannya, dan tidaklah hal ini terjadi kecuali karena lemahnya iman, dan jikalau tidak maka manusia yang mana yang mau menghinakan dirinya dan menyerahkan dirinya kepada kemurkaan Al-Jabbar (dzat yang maha perkasa)! Ya Allah sesungguhnya kami memohon kepadamu keselamatan dan kesehatan di dalam agama dan dunia kami.

Catatan penting : Tidaklah laknat ini khusus untuk wanita, bahkan masuk padanya laki-laki apabila mereka menyambung rambut, mentato, menyambung rambut dan mengukir gigi untuk terlihat bagus! Atau mereka meminta kepada selain mereka untuk melakukan salah satu dari hal tersebut kepada mereka. Dan pengkhususan laknat bagi wanita hanya karena kebanyakan hal itu ada pada mereka wanita sebagaimana pada perkara meratap, wallahu a’lam.


FootNote

[1] Tafsir Al-Karim Ar-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan. (6/222-223).

[2] Al-Bukhari (5892).

[3] Al-Bukhari (5893).

[4] Muslim (259)/54.

[5] Muslim (259)/55.

[6] Syarah Muslim jilid ke dua (3/123).

[7] HR. Al-Bukhari (5899) Muslim (21003) Ahmad (7233) An-Nasaa’i (5069) Abu Daud (4203) dan Ibnu Majah (3621).

[8] HR. Muslim (2102) Ahmad (1399) An-Nasaa’i (5076) Abu Daud (4204) dan Ibnu Majah (3624).

[9] Al-Adaab As-Syar’iyyah (3/334-335).

[10] Al-Adaab As-Syar’iyyah (3/336).

[11] Lihat Al-Bukhari (5707) dan Muslim (1489).

[12] Al-Itsmid : adalah batu yang sudah dikenal yang berwarna hitam dipukulkan ke Al-Humrah, yang ada di negeri Al-Hijaz yang paling baik yang di datangkan dari Ashbahan. Ibnu Hajar menjelaskannya di dalam Al-Fath (10/167).

[13] HR. Ahmad (2048) Abu Daud (3878) Al-Albani menshahihkannya, At-Tirmidzi (1757) dan Ibnu Majah (3497).

[14] Lihat Fathul Baari (10167).

[15] HR. Ibnu Abi Ashim dan At-Thabrani. Ibnu Hajar berkata : “sanadnya hasan”. (Fathul Bari : kitab At-Tibb 10/167).

[16] Al-Wasyam (tato) di tangan, yang demikian itu karena wanita menusuk punggung telapak tangannya dan pergelangan tangan dengan jarum atau dengan jarum besar sehingga berbekas padanya, kemudian dia mengisinya dengan celak atau dengan an-nil atau an-niyyil atau dengan an-nu’ur (asap minyak) maka bekasnya menjadi biru atau hijau. (Lisan Al-’Arab : 12/638) Bahasan :و ش م.

Al-mustausyimah adalah wanita yang meminta tato dari selainnya.

[17] An-namash : mencabut rambut, namasha sya’rahu yanmashahu namshan : yaitu mencabutnya…dan an-namishah : wanita yang menghiasi wanita lainnya dengan an-namash. Dan di dalam hadits : wanita-yang mencabut bulu wajah dan yang dicabutkan dilaknat Allah; Al-Farraa’u berkata : an-namishah adalah yang mencabut rambut dari wajah, dan dari makna ini dikatakan kepada tukang lukis/ukir minmash, karena dia mencabutnya dengan lukisan/ukiran itu, dan al-mutanammishah : yang melakukan hal tersebut dengan dirinya sendiri. (Lisan Al-’Arab : 7/101) Bahasan :ن م ص.

[18]Faljul Asnan : gigi saling berjauhan….rajulun aflaj apabila seorang laki-laki pada gigi-giginya ada yang terpisah, dan ini juga bentuk   At-Taflij. (At-Tahdzib) : dan Al-Falj yang ada diantara gigi adalah saling berjauhannya apa yang ada diantara gigi seri dan gigi ruba’iyyah dari asal penciptaannya, dan apa bila salah seorang itu berusaha untuk membuat seperti itu maka itu adalah At-Taflij….dan di dalam al –hadits : sesungguhnya Allah melaknat al-mutafallijat (wanita yang mengukir giginya) untuk membaguskan penampilan : yaitu wanita yang melakukan hal tersebut karena ingin terlihat bagus. (Lisan Al-’Arab : 2/346-347 dengan sedikit perubahan) Bahasan :ف ل ج

[19] Al-Washilah dari kalangan wanita : yang menyambung rambutnya dengan rambut selainnya, dan al-mustaushilah : wanita yang meminta hal itu dan dia yang melakukan hal itu juga. Dan didalam al-hadits: bahwa rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat Al-washilah dan al-mustaushilah. Abu Ubaid berkata : hal ini ada pada rambut, dan yang demikian itu karena wanita menyambung rambutnya dengan rambut selainnya adalah bentuk penipuan/kedustaan. (Lisan Al-’Arab : 11/727) Bahasan :و ص ل

[20] HR. Al-Bukhari (4886) (4877) Muslim (2125) Ahmad (3935) An-Nasaa’i (5099) At-Tirmidzi (2782) Abu Daud (4169) Ibnu Majah (1989) dan Ad-Daarimi (2647).

 

Alhamdulillah, semoga bermanfaat Insya Allah….

و السلام عليكم ورحمة الله وبر كاته

About these ads