السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إنّ الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنّ محمدا عبده ورسوله {يا أيّها الذين آمنوا اتقوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ولا تَمُوتُنَّ إلاَّ وأَنتُم مُسْلِمُونَ} {يا أيّها الناسُ اتّقُوا ربَّكمُ الَّذي خَلَقَكُم مِن نَفْسٍ واحِدَةٍ وخَلَقَ مِنْها زَوْجَهاوبَثَّ مِنْهُما رِجالاً كَثِيراً وَنِساءً واتَّقُوا اللهََ الَّذِي تَسَائَلُونَ بِهِ والأَرْحامَ إِنَّ اللهَ كان عَلَيْكُمْ رَقِيباً } {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمالَكمْ ويَغْفِرْ لَكمْ ذُنوبَكُمْ ومَن يُطِعِ اللهَ ورَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً}

أما بعد، فإن أصدق الحديث كلام الله وخير الهدي هدي محمد وشر الأمور محدثاتها وكلّ محدثة بدعة ، وكل بدعة ضلالة ، وكل ضلالة في النار

Melanjutkan artikel yang awal ;

2. Haramnya Laki-laki Menyerupai Wanita Dan Wanita Menyerupai Laki-laki :

Pada perkara tersebut adanya ancaman yang keras dan laknat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : ” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallammelaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” dan di dalam lafazh yang lain : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang berperilaku layaknya wanita dan wanita yang berperilaku layaknya laki-laki. Dan berkata keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian.”

Ibnu Abbas berkata : “ Nabi mengeluarkan si fulan dari rumahnya dan Umar mengeluarkan si fulan dari rumahnya”[1].

Dan penyerupaan kadang ada pada cara berpakaian, cara berbicara dan terkadang pada cara berjalan dan yang semisalnya. Maka kapan saja seorang laki-laki mengerjakan apa yang merupakan kekhususan wanita di dalam cara berjalan, cara berbicara atau cara memakai pakaian maka dia telah masuk di dalam laknat, atau kapan saja seorang wanita mengerjakan apa yang merupakan kekhususan laki-laki di dalam cara berjalan, cara berbicara atau cara berpakaian maka dia telah masuk dalam laknat tersebut.

Masalah : Apabila Penyerupaan Tersebut Merupakan Sifat Asli Seseorang Apakah Dia Masuk Ke Dalam Laknat Dan Celaan?

Jawab : Ibnu Hajar bekata : “ Adapun seseorang yang penyerupaan tersebut merupakan sifat aslinya maka ia hanya diperintahkan agar berupaya meninggalkan sifat tersebut dan membiasakan untuk meninggalkan kebiasaannya itu secara bertahap, apabila dia tidak melaksanakannya dan terus menerus bersifat seperti itu maka dia masuk ke dalam celaan, terlebih lagi apabila nampak darinya apa yang menunjukkan akan keridhaan akan sifat tersebut. Hal ini merupakan perkara yang jelas dari lafazh Al-Mutasyabbihin[2].

 

3. Disunnahkan Menampakkan Adanya Pemberian Nikmat Dari Allah Dalam Berpakaian Dan Yang Selainnya :

Disunnahkan bagi orang yang Allah berikan harta agar menampakkan adanya pengaruh nikmat Allah atasnya dengan memakai pakaian yang indah tanpa adanya sikap berlebih-lebihan dan sikap sombong, dan janganlah ia terlalu menekan dirinya sendiri atau berlaku kikir dengan hartanya, bahkan hendaknya dia memakai pakaian yang baru lagi indah dan bersih untuk menampakkan adanya nikmat Allah atasnya.

Diriwayatkan dari Abu Al-Ahwash dari ayahnya dia berkata : “Saya pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pakaian yang lusuh murahan[3]. Maka beliau berkata : “Apakah kamu memiliki harta? Abul A’wash berkata : iya. Beliau berkata : “ Dari harta yang mana? “

Abul A’wash berkata : Allah telah memberiku beberapa sapi dan kambing, kuda dan budak. Nabi berkata : “Apabila Allah telah memberimu harta maka hendaknya engkau menampakkan pengaruh nikmat dan kemuliaan “[4].

Dan manusia di dalam hal ini ada dua sisi dan pertengahan, satu kaum ada yang terlalu menekankan bagi dirinya dan terlalu hemat entahkah itu dengan alasan agama – menurut persangkaan mereka – ataukah karena kebakhilan. Dan kaum yang berlebih-lebihan dan melampaui batas mereka membelanjakan banyak harta pada pakaian yang akan mudah usang, dan kaum yang berada di pertengahan yang mereka menampakkan nikmat Allah kepada mereka dalam berpakaian tempat tinggal tanpa berlebih-lebihan dan tidak pula menyombongkan diri.

 

4. Haramnya Menyeret Kain Dengan Kesombongan :

Allah mengancam kepada orang yang menyeret pakaiannya karena kesombongan dan merasa lebih tinggi dari yang lain bahwa Allah tidak akan melihat kepada mereka pada hari dimana dia sangat dibutuhkan Rabb semesta alam.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah tidak akan melihat kepada orang yang menyeret kain sarungnya karena sombong di hari kiamat”[5].

Dan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Ketika seseorang berjalan dalam keadaan memakai pakaian yang menjadikan dirinya terkagum-kagum dengan rambut jummah[6] (yang tersisir rapi terurai sampai ke pundak) dan  Allah membenamkannya di dalam tanah niscaya dia dalam keadaan berteriak sampai hari kiamat”. Dan dalam riwayat Ahmad : “Ketika seseorang berjalan dengan penuh kesombongan memakai pakaian yang mengagumkannya dengan rambut jummah (terurai sampai ke pundak) yang menjadikan kain sarungnya menjulur sampai ke tanah, lalu Allah membenamkannya maka dia berteriak atau jatuh di dalamnya sampai hari kiamat”[7].

Hadits-hadits diatas tadi sebagaimana yang anda lihat menjelaskan haramnya menyeret pakaian dengan penuh kesombongan dan merasa lebih tinggi dari manusia lainnya. Demikian itu karena kesombongan bagian dari sifat Allah Azza wa Jalla, dan sifat itu adalah sifat kesempurnaan bagi-Nya subhanahu. Tidak sepatutnya bagi makhluk menjadikan sifat ini ada padanya. Abu Said Al-Khudri radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Al-Izzu (kemuliaan) adalah sarung Allah dan Al-Kibriyaa’ (kesombongan) adalah selendangnya, maka barang siapa yang menentangku aku akan mengadzabnya” . Pada lafazh riwayat Abu Daud : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Allah ‘azza wa Jalla berfirman : “Al-Kibriyaa’ adalah selendangku dan Al-Azhamah adalah sarungku maka barang siapa yang menentangku salah satu dari keduanya niscaya aku akan melemparkannya ke dalam neraka”[8].

An-Nawawi berkata : “ Makna “menentangku” : Berakhlak dengan sifat tersebut, sehingga bermakna saling berserikat dalam sifat tersebut, dan ini merupakan ancaman yang keras terhadap sifat sombong, dan penjelasan terhadap pengharamannya[9].

Faedah : Pakaian yang bagus, baik yang berharga atau yang tidak berharga, tidaklah dianggap bagian dari kesombongan yang pelakunya diancam dengan ancaman keras, dan yang tercela ada pada orang yang di dalam hatinya bersemayam sifat sombong, berjalan dengan penuh kecongkakan meremehkan orang lain dan ‘ujub/kagum akan diri dan penampilannya maka hal ini yang tercela.

Ibnu Hajar berkata : “ Keseluruhan dalil yang ada menjelaskan bahwa barang siapa yang memaksudkan dengan pakaiannya yang bagus untuk menampakkan dan menunjukkan nikmat Allah kepada-nya serta bersyukur atas nikmat tersebut tanpa merendahkan orang yang tidak memiliki hal yang semisal dirinya, maka pakaian mubah yang dikenakannya tidak akan memudharatkannya walaupun yang pakaian yang dia pakai sangat berharga.

Di dalam shahih Muslim dari Ibnu Mas’ud : ” Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Tidak akan masuk surga orang yang ada di hatinya seberat biji dzarrah dari sifat sombong, maka seseorang berkata : Sesungguhnya seseorang menyenangi pakaiannya bagus dan sendalnya bagus, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Sesungguhnya Allah itu indah mencintai sesuatu yang indah, kesombongan itu berupa penolakan kebenaran dan merendahkan manusia”[10],[11].

Catatan penting : Ibnu Hajar berkata : “ Dari konteks hadits-hadits diatas[12] dapat diambil suatu ulasan bahwa kaitan sifat sombong dengan menyeret pakaian untuk menjelaskan seringnya hal itu terjadi. Dan penolakan kebenaran serta berjalan dengan kecongkakan adalah perkara yang tercela walaupun bagi orang yang menyingsingkan lengan baju[13].


Footnote

[1] HR. Al-Bukhari (5885) (5886) Ahmad (1983) At-Tirmidzi (2783) Abu Daud (4097) Ibnu Majah (1904) dan Ad-Darimi (2649).

[2] Fathul Baari (10/345).

[3] Yaitu yang jelek dan tidak ada nilainya.

[4] HR. Abu Daud (4064) dan lafazhnya berdasarkan periwayatannya, dan Al-Albani menshahihkannya, dan Ahmad (15457), dan An-Nasaa’i (5223).

[5] HR. Al-Bukhari (5788), Muslim (2078), Ahmad (8778) dan Malik (1698).

[6] A-Jummah : dengan dhammah : kumpulan rambut dan lebih banyak dari biasanya. Dan di dalam hadits : adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berambut Jummah dan ikal; Al-Jummah dari rambut kepala : Apa yang terurai di atas pundak. (Lisan Al-Arab 12/107) materi : (جمم).

[7] HR. Al-Bukhari (5789), Muslim (2088) Ahmad (7574) dan Ad-Darimi (437).

[8] HR. Muslim (2620), Ahmad (7335), Abu Daud (4090) dan Ibnu Majah (4174).

[9] Syarah Shahih Muslim. Jilid 8 (16/148 – 149).

[10] HR. Muslim (91) dan Ahmad (3779).

[11] Fathul Baari (10/271).

[12] Hadits-hadits yang dia maksudkan adalah hadits-hadits yang menjelaskan tentang orang yang menyeret pakaiannya karena kesombongan.

[13] Fathul Baari (10/271).

 

Bersambung, Insya Allah…

و السلام عليكم ورحمة الله وبر كاته